Tentang Kota Makassar (Bagian 2)

Tentang Kota Makassar (Bagian 2)

 

lapangan Koningsplein Sekarang Karebosi diawal abad 19 -

lapangan Koningsplein Sekarang Karebosi diawal abad 19

Sampai pertengahan pertama abad ke-17 Makassar berupaya merentangkan kekuasaan ke sebagian besar Indonesia Timur dengan menaklukkan pulau Selayar dan sekitarnya. kerajaan-kerajaan Wolio di Buton, Bima di Sumbawa, Banggai dan Gorontalo di Sulawesi bagian Timur dan Utara serta mengadakan perjanjian dengan kerajaan-kerajaan kecil di Seram dan pulau-pulau lain di Maluku; secara Internasional, sebagai salah satu bagian penting Kosmopolitan itu menyebabkan sebuah “renaissance kreatif” yang menjadikan Bandar Makassar salah satu pusat ilmu pengetahuan terdepan pada zamannya. Koleksi buku dan peta, sesuatu yang pada zaman itu masih langkah di Eropa, yang terkumpul di Makassar konon merepakan salah satu perpustakaan ilmiah terbesar di Dunia, dan para sultan tak segan-segan memesan barang-barang paling mutakhir dari seluruh pelosok bumi termasuk bola Dunia dan teropong terbesar pada waktunya yang dipesan secara khusus dari Eropa.

Fort Rotterdam awal abad 19 -

Fort Rotterdam awal abad 19

Ambisi para pemimpin Gowa-Tallo untuk semakin memperluaskan wilayah kekuasaanya serta persaingan Bandar Makassar dengan kompeni dagang Belanda VOC berakhir dengan “perang paling dahsyat dan sengit yang pernah dijalankan kompeni”. Pasukan Bugis, Belanda dan sekutunya dari Ternate, Buton dan Maluku memerlukan tiga tahun operasi militer di seluruh kawasan Indonesia Timur sesampai pada tahun 1669 akhirnya dapat merata-tanahkan kota Makassar dan benteng terbesarnya, Somba Opu.

Kegiatan Mengadu Ayam di Makassar -

Kegiatan Mengadu Ayam di Makassar

Bagi Sulawesi-Selatan, kekalahan Makassar ditangan federasi itu merupakan sebuah titik balik yang berarti: Bandar Niaga Makassar menjadi wilayah kekuasaan VOC, dan beberapa pasal perjanjian perdamaian membatasi dengan ketat kegiatan pelayaran antar pulau Gowa-Tallo dan sekutunya. Pelabuhan Makassar ditutup untuk perdagangan asing, sehingga komunitas saudagar hijrah kepelabuhan-pelabuhan lain.

Pada dekade-dekade pertama setelah kehancuran kota dan bandar Makassar, penduduk yang tersisa membangun sebuah pemukiman baru disebelah Utara bekas Benteng Ujung Pandang; benteng pertahanan pinggir utara kota lama itu pada tahun 1673 ditata ulang oleh VOC sebagai pusat pertahanan dan pemerintah dan diberi nama barunya Fort Rotterdam , dan ‘kota baru’ yang mulai tumbuh disekelilingnya itu dinamakan ‘Vlaardingen’ pemukiman itu jauh lebih kecil daripada kota raya Makassar yang telah dihancurkan itu: pada dekade-dekade pertama seusai perang seluruh kawasan itu dihuni tidak lebih 2.000 jiwa; pada pertengahan abad ke-18 jumlah itu meningkat menjadi sekitar 5.000 orang,setengah diantaranya budak.

Selama dikuasai VOC, Makassar menjadi sebuah kota yang terlupakan. ‘jan kompeni’ meupun para penjajah kolonial pada abad ke-19 itu tak mampu menaklukkan jazirah sulawesi selatan yang sampai abad ke-20 masih terdiri dari selusinan kerajaan kecil yang independen dari pemerintahan asing, bahkan sering harus memepertahankan diri terhadap serangan militer yang diluncurkan kerajaan-kerajaan itu. Maka, ‘kota kompeni’ itu hanya berfungsi sebagai pos pengamanan di jalur utara perdagangan rempah-rempah tanpa hinterland bentuknya pun bukan ‘bentuk kota’, tetapi suatu aglomerasi kampung-kampung di pesisir pantai sekeliling Fort Rotterdam.

Bersambung ke Bagian 3

Sumber gambar : KITLV, Amsterdam