Mengenal Lebih Dekat Eyang Habibie

Sobat BeMaks, Siapa yang tak kenal BJ. Habibie, mantan Presiden RI yang ke tiga? Siapapun itu pasti mengenalnya, apa lagi bagi generasi yang suka teknologi, karena beliaulah satu-satunya Presiden RI yang berlatar belakang teknologi tamatan Jerman. Beda dengan Bung Karno latar belakang teknologinya produk Indonesia asli.

(BJ. Habibie. Foto: suararakyatindonesia.org)

(BJ. Habibie. Foto: suararakyatindonesia.org)

Habibie adalah tokoh yang sudah dikenal oleh dunia sebelum dia menjadi Presiden, khsususnya dalam bidang teknologi di Eropa, khususnya di Jerman, karena Habibie lah satu-satunya orang Indonesia sekaligus orang Asia yang pernah memimpin perusahaan penerbangan di Jerman, bahkan Habibie pernah ditawarkan untuk membangun kedirgantraan di negara tetangga kita,Filipina, tapi beliau menolaknya. Nah beliaulah Presiden yang banyak menginpirasi generasi muda di bidang teknologi, sehingga lahirlah berbagai macam buku tentang Habibie sebelum dan sesudah menjadi Presiden.

Biografi Singkat

Bacharuddin Jusuf Habibie dilahirkan di Kota Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada tanggal 25 Juni 1936. Beliau merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 ini dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal. Masa kecil Habibie dilalui bersama saudara-saudaranya di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Sifat tegas berpegang pada prinsip telah ditunjukkan Habibie sejak kanak-kanak. Habibie yang punya kegemaran menunggang kuda dan membaca ini dikenal sangat cerdas ketika masih menduduki sekolah dasar, namun ia harus kehilangan bapaknya yang meninggal dunia pada 3 September 1950 karena terkena serangan jantung saat ia sedang shalat Isya.

(Foto Keluarga BJ. Habibie. Foto: wikipedia.com)

(Foto Keluarga BJ. Habibie. Foto: wikipedia.com)

Tak lama setelah ayahnya meninggal, Ibunya kemudian menjual rumah dan kendaraannya dan pindah ke Bandung bersama Habibie, sepeninggal ayahnya, ibunya membanting tulang membiayai kehidupan anak-anaknya terutama Habibie, karena kemauan untuk belajar Habibie kemudian menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare School. Di SMA, beliau mulai tampak menonjol prestasinya, terutama dalam pelajaran-pelajaran eksakta. Habibie menjadi sosok favorit di sekolahnya.

Belajar Dari Habibie

Berdasarkan Referensi pada Buku “Habibie dan Ainun” terbitan PT. THC Mandiri-Jakarta, Indonesia cetakan kedua Desember 2010.

(BJ. Habibie. Foto: tempo.co)

(BJ. Habibie. Foto: tempo.co)

Coba siapa yang menyangka bahwa Pak Habibie pun naik bis kota! Dan sering jalan kaki sejauh lima kilometer, bukan karena olah raga, tapi keterbatasan uang pada saat itu! Dan yang lebih memperihatikan adalah sepatunya berlobang-lobang, Ayo siapa yang pernah menyangka bahwa pak Habibie sang pendiri PT. Dirgantara Indonesia dan mantan Presiden Ri pada masa transisi 1998-1999, ketika awal-awalnya berumah tangga dan hidup di Jerman sampai sepatu berlobang-lobang alias bolong-bolong!

Saya kembali larut malam dan kadang-kadang berjalan kaki karena tidak ada bus lagi atau harus menghemat. Untuk mempersingkat waktu, saya berjalan melalui kuburan. “Jikalau hujan dan dingin saya berjalan dengan payung, mantel dan spetu yang diberi alas kertas sebagai alas kaki yang dapat membantu isolasi”. (Hal. 20)

Berikutnya ibu Ainun menulis: “Tidak ada uang kecuali untuk membeli mesin jahit. Belinya tentu dengan menyicil, dan karena mesinya mesin Singer yang bagus cicilannya lunas baru satu setengah tahun. Hidup benar-benar prihatin. Hidup benar-benar keras. tetapi ada hikmahnya. Di masa-masa inilah saya belajar untuk hidup berdikari.” (Hal. 21)

Ayo siapa yang menyangka bahwa keluarga pak Habibie pun sempat utang, hanya untuk membeli mesin jahit. Sobat BeMaks, pasti tak pernah menduga sebelumnya, yang ada dipikiran kita karena beliau ada di Jerman, beliau adalah insinyur dan istrinya seorang dokter maka yang terbayang semuanya akan serba enak.

Ternyata di awal-awal kehidupan berumah tangga hampir sama dengan yang lainnya, kebetulan waktu itu Beliau sama dengan mahasiswa lainnya dan belum dikenal di Indonesia, pak Habibie terkenal di Indonesia setelah pulang atau ditarik pulang untuk mengabdi di Indonesia, padahal pak Habibie bukan mendapat beasiswa dari negara!

Ada kebiasaan pak Habibie yang karena begitu banyaknya pekerjaan yang ditanganinya, seringakali dimeja kerjanya berantakan! Konon pak Harto pun membiarkan kebiasaan tersebut dan ini terlihat sejak masih di Jerman. Buku, makalah dan majalah ilmiah saya bawa ke rumah dan bertaburan di lantai atau di tempat tidur. (Hal. 28).

Ainun tidak pernah merubah letak bahan riset saya yang sering letaknya tersebar di mana-mana. Dan coba lihat lagi. Coretan pada kertas tersebar di atas tempat tidur dan lantai bersama buku-buku dan majalah ilmiah yang sedang saya baca. Sebuah pengakuan yang sejujurnya dari seorang Habibie. (Hal. 34)

Dan untuk mencuci punya cerita lain lagi, “membawa cucian besar berkarung-karung naik bis ke Aachen untuk dimasukan mesin cuci sewaan dan di bawa pulang setelah selasai belanja.” (Hal. 39)

Ibu-ibu mana yang pernah menyangka Sobat BeMaks, bahwa ibu Ainun Habibie pun saat awal berumah tangga di Jerman tidak punya mesin cuci, padahal itu sangat penting di negara yang punya empat musim, terutama di musim dingin, karena saat itu matahari jarang muncul, dengan demikian susah menjemur untuk mengeringkan pakaian.

(BJ. Habibie. Foto: harnas.co)

(BJ. Habibie. Foto: harnas.co)

Namun ada yang menarik dari pak Habibie terutama tentang sumpah yang dia ucapkan ketika sakit keras dan ternyata sumpahnya tertulis dalam bentuk puisi berikut ini:

“Sumpahku”

Terletang! Jatuh! Perih! Kesal!

Ibu Pertiwi

Engkau pegangan

Dalam perjalanan

Janji Pusaka dan Sakti

Tanah Tumpah daraku makmur dan suci

….

Hancur badan!

Tetap berjalan!

Jiwa Besar dan Suci

Membawa aku PADAMU!

(Hal. 41-42)

Sobat BeMaks, siapa yang menyangka bahwa pak Habibie pun pernah menulis puisi dan itu dijadikan semacam “sumpah palapa” nya Gajah Mada, yang tak akan makan buah maja, sebelum nusantara bersatu! Dan pak Habibie punya tekad yang sama untuk memajukan Indonesia.

Di lain tempat Habibie menulis, “Banyak yang kagum atas prestasi nyata yang saya tunjukan, namun ada juga beberapa orang yang iri. hanya dengan bekerja keras, saya dapat atasi persaingan menghadapi teman-teman yang berbakat pula.” (Hal. 52)

“Kami bekerja keras dan menikmati tiap detik yang diberikan Allah SWT dengan meletakkan jejak yang indah dengan perasaan khusus yang dikalbui oleh cinta yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi. Sehingga semua yang tak mungkin menjadi mungkin. (Hal. 55)

Meniru Kebiasaan Menulisnya Habibie

Sobat BeMaks, Habibie memang luar biasa. Semua kejadian penting dalam hidupnya tercatat rapi di dalam buku Habibie & Ainun. Kok bisa ya beliau masih mengingatnya? Bahkan Habibie menuliskan gaji pertamanya atau detailnya pertemuan pertamanya dengan Ainun.

(BJ. Habibie. Foto: tempo.co)

(BJ. Habibie. Foto: tempo.co)

Memang, segala kejadian yang memiliki nilai tertentu akan melahirkan emosi tertentu pula. Akibatnya, emosi ini terus mengendap dalam hati dan dia menjadi ingatan abadi seseorang. Namun yang ditulis Habibie terlalu banyak. Terlalu detil. Terlalu hebat.

Pak Muslimin Nasution, pendiri Yayasan Al Muslim dan anggota presidium ICMI berkata bahwa Habibie sehebat itu karena beliau juga memanfaatkan buku untuk mencatat setiap detil kejadian dalam hidupnya. Jadi, tidak semata-mata beliau mampu menyimpan ingatannya dalam memori, namun juga karena kebiasaannya menuliskan hal-hal penting tersebut.

Nah, Sobat BeMaks, Itulah tadi cerita singkat dari Eyang Habibie, apa lagi yang kita pelajari tokoh sebesar Habibie, yang bukan saja di kenal Indonesia, tapi juga dunia, terutama dibidang teknologi penerbangan, karena sampai saat inipun, saat beliau sudah tak menjadi Presiden, masih terus berkeliling dunia berceramah atau seminar tentang dunia kedirgantaraan.

Indonesia memang membutuhkan “Habibie-hebibie” yang sebanyak-banyaknya, agar Indonesia tak kalah dengan bangsa lain dibidang teknologi khususnya dan pada bidang-bidang lain umumnya.

Sobat BeMaks, semoga artikel tersebut dapat menginspirasi kita semua untuk belajar menyikapi kehidupan, berjuang, kerja keras, berdoa, dan serta mencintai apa yang kita miliki. Semangat Inspirasi menyertai kita semua untuk Negeriku Indonesia tercinta ini.

 

Referensi Bacaan:

Buku Habibie dan Ainun, terbitan PT. THC Mandiri-Jakarta, Indonesia cetakan kedua Desember 2010.

www.eramuslim.com

www.biografiku.com