Manusia Tak Selayaknya DiTakuti

Apa yang menjadikan pemimpin itu pemimpin? Apa yang membedakan penguasa dengan seorang pemimpin? Penguasa ditakuti. Pemimpin dicintai. Ketakutan melahirkan keterikatan. Kecintaan melahirkan pemberian dan pengorbanan.

Banyak yang bilang kekuatan merupakan tampilan seseorang yang gagah, wibawa yang tegas, dan kata-kata yang keras. Tapi terkadang semakin keras seseorang semakin melembut ia. Benarkah perkataan bahwa sesungguhnya bila tampak keras dan tegas diluar, rapuh dan rentan di dalam. Tapi bila tampak lembut di permukaan, kuat mengakar ia di dalam badan?.

Di manakah katakutan? Lagi-lagi diantaranya. Orang-orang yang menyebarkan ketakutan adalah orang yang paling takut bahkan kepada dirinya sendiri. Orang yang ditakuti adalah orang yang tak percaya diri. Di sinilah agama mengingatkan kita. Manusia itu mulia. Manusia itu cinta. Godaan terbesar dari rasa cinta dan mulia adalah hasrat akan kuasa.

Manusia tak selayaknya ditakuti. Benar pantas disegani, tapi harus karena kemuliaan cinta yang Tuhan hadirkan bersamanya. Sungguh, orang yang paling buruk, adalah orang yang kau hormati karena kau takuti keburukannya.
Karena sekuat apapun kita, ada Sang Mahakuat lagi perkasa. Seberapa pun kita ditakuti, ada Yang Mahaagung teramat pantas dihormati.


Kata Eleanor Roosevelt, “untuk mengendalikan diri, gunakan akal budi. Untuk memimpin yang lain, gunakanlah hati. Pemimpin sejati adalah yang menguasai hati. Bukan karena rasa takut yang dibuai, tapi cinta yang disemai”.